Kamis, 10 Juli 2008

Kerinduan dan karena rindu



Maaf aku Merindukanmu

Ini aku dengan salahku
Ini aku dengan inginku
Ini aku dengan anganku
Ini aku dengan kamu
Maaf aku merindukanmu



LAGI-LAGI

Lagi-lagi angin itu berhembus membawanya
Menyeretnya mendekat kepadaku
Memaksaku mencium wanginya
Merangkulku, tuk mencumbunya
Meresahkan anganku yang tak dapat lepas

Lagi-lagi waktu bergerak menggiringnya
Membawanya untuk bersekutu denganku
Bergerak berdentum bersama dalam hentakan langkahku
Membebaniku dengan beribu asmara di punggung
Tak bisa ku letakkan sejenak atau selamanya saat ini


Lagi-lagi mata itu membawaku melihatnya
Pandangan yang tak ingin ku toleh
Namun mataku memaksanya, mewajibkan melihatnya
Menatapnya dalam-dalam, hingga mataku tak bisa menatap ke lain lagi
Mata ini telah menyimpan gambarnya di dalam sana
Sangat dalam….


Lagi-lagi anganku melakukannya
aku menciumnya
aku menyentuhnya
aku mencubunya
aku menginginkannya


Lagi-lagi ku ingat dia
Lagi-lagi ku merindukannya
Padahal ini terlarang …..
Akh…….



MATANYA

Mata besar
Putih, coklat jernih di selaput pelanginya
Garis-garis di badan beningnya terlihat tipis
Hampir tak terlihat

Di badan beningnyanya putih, bersih
Menatapnya seakan berada di padang salju
Putih berhampar, empuk, dan dingin
Guratan-guratan tipisnya bagai guguran bunga-bunga sakura yang jatuh terhempas angin musim gugur selepas musim salju
Inginku berselancar disana
Atau bermain kejar-kejaran,
Atau membuat boneka salju yang bertopi hitam dan berhidung ranting cemara


Mata besar
Putih, coklat di selaput pelanginya


Irisnya hitam pekat, halus, licin
Mengkilap indah,
Tajam
Menatapnya seolah sedang di todong mulut meriam yang menganga
Membidik tepat di depan mata
Mengunci sendi-sendi
Melumpuhkan otot-otot
Membuat fikrian tak terkendali


Mata besar
Putih badan beningnya, hitam di irisnya



Pencarian

Dalam diam ku terbang
Membumi ke angkasa raya
Menyebrangi samudra
Membelah cakrawala
Menyisiri seluk-beluk relung jiwa
Mencari satu nafas yang kosong

Nafas tertahan, tersengal
Jakun menelan peluh gelisah
Bermandikan derai-derai keputus asaan
Hingga hampir ku terhempas jatuh di atas awan yang gelap

Napas tercium wangi
Mengisi hati menyambung nyawa
Menghapus perih tinggalkan pedih
Namun hati tetap ragu
Sebelum nafas aku miliki
Atau nafas ini berhenti

(anu-w@n)





1 komentar:

s@dsereN@De! mengatakan...

saudara,
saya tidak begitu mengerti atau mempunyai ilmu yang mendalam tentang bahasa.Apa yang pasti,saudara telah berjaya melahirkan sesuatu puisi yang bagus.teruskan karyanya.