Keterampilan Berbahasa
Membaca Ide
I. Pendahuluan
Keterampilan berbahasa (atau language arts, language skills) dalam kurikulum di sekolah biasanya mencakup empat segi, yaitu :
Keterampilan menyimak/mendengarkan
Keterampilan berbicara
Keterampilan membaca
Keterampilan menulis
Keempat keterampilan tersebut berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya (satu kesatuan/catur tunggal). Karena setiap keterampilan itu berhubungan dengan proses berfikir yang mendasari bahasa atau menurut pribahasa ”Bahasa seseorang mencerminkan fikirannya”. Namun pada makalah ini kami hanya berbicara tentang keterampilan membaca (dalam hal ini keterampilan membaca isi membaca ide).
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan oleh pembaca untuk memperolah pesan yang disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. Dari segi linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi. Atau dengan kata lain membaca sebagai suatu penafsiran atau interpretasi terhadap ujaran yang berada dalam bentuk tulisan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, membaca yaitu melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya di hati), mengucapkan, mengeja atau melafalkan apa yang tertulis.
Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Dengan kata lain membaca bertujuan untuk :
Memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta
Memperoleh ide-ide utama
Mengetahui urutan atau susunan dan organisasi cerita
Menyimpulkan/membaca inferensi
Mengelompokan/mengklasifikasikan
Menilai/mengevaluasi
Memperbandingkan/mempertentangkan
Membaca sebagai suatu keterampilan berbahasa, terbagi kedalam dua aktivitas, yaitu membaca nyaring dan membaca dalam hati. Membaca dalam hati dibagi atas membaca ekstensif dan membaca intensif. Sedangkan membaca ide termasuk kedalam cakupan membaca telaah isi yang tergolong membaca intensif.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
II. Membaca Ide (Reading for Ideas)
A. Pengertian Membaca Ide
Seperti halnya dengan keterampilan membaca telaah isi yang lainnya (yaitu membaca teliti, membaca pemahaman, dan membaca kritis), membaca ide juga merupakan hal yang sangat penting dalam memahami serta menemukan gagasan yang disampaikan oleh penulis pada tulisannya.
Di atas telah dikemukakan tentang pengertian dari membaca. Sedangkan kata ”ide” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berarti rancangan yang tersusun di dalam pikiran; gagasan; cita-cita.
Terdapat beberapa pengertian tentang membaca ide, diantaranya yaitu :
Membaca ide juga berarti sejenis kegiatan membaca yang ingin mencari, memperoleh, serta memanfaatkan ide-ide yang terdapat pada bacaan.
Membaca ide merupakan mengerahkan kemampuan keterampilan membaca untuk menangkap ide pokok pada sebuah bacaan.
Membaca ide berarti membaca untuk menemukan pikiran, gagasan, cita-cita yang terdapat pada wacana yang dibaca.
Membaca ide merupakan tahapan pertama untuk memajukan pemahaman dari maksud penulis yang terdapat pada tulisannya.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca ide adalah proses membaca yang bermaksud menemukan dan memahami ide, gagasan, cita-cita dan maksud pengarang/penulis yang terdapat pada tulisannya.
Contohnya ketika kita membaca sebuah buku/bacaan. Untuk memudahkan kita mendalami buku/bacaan tersebut, hendaklah kita selalu menemukan ide pokok pada setiap buku/bacaan yang meliputi:
1. Ide pokok buku/bacaan keseluruhan
2. Ide pokok bab/judul
3. Ide pokok bagian bab/sub bab, sub judul
4. Ide pokok paragraf
Ke-empat ide pokok tersebut harus kita temukan dan pahami. Hal ini lah yang disebut dengan membaca ide.
B. Hubungan Membaca Ide dengan Keterampilan Membaca Telaah Isi yang lain (membaca teliti, membaca pemahaman, dan membaca kritis)
1. Hubungannya dengan membaca teliti
Untuk membaca ide pada setiap bacaan tentunya perlu ketelitian yang baik dari pembaca untuk menemukan ide, gagasan pada tulisan yang dibacanya. Maka terlihat jelas membaca teliti merupakan tahapan untuk mencapai/menemukan ide, gagasan dalam bacaan.
2. Hubungannya dengan membaca pemahaman
Bagaimana kita dapat menemukan ide, gagasan dalam tulisan apabila kita tidak memahami bacaan yang kita baca tersebut. Maka membaca pemahamn juga erat hubungannya dengan membaca ide.
3. Hubungnya dengan membaca kritis
Seorang pembaca kritis tidak akan mampu menganalisis suatu bacaan apabila dia sendiri tidak mengetahui/menemukan gagasan, ide yang sebenarnya yang dimaksud oleh penulis. Maka membaca ide adalah salah satu tahapan untuk menjadi pembaca kritis, dan begitu juga sebaliknya.
C. Manfaat Membaca Ide
Orang yang lebih banyak membaca maka akan mempunyai banyak ilmu pengetahuan dan pengalaman, dan orang yang kaya akan ilmu dan pengalaman akan mudah berbicara atau menulis tentang ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya.
Begitu juga semakin banyak membaca orang akan semakin terampil berbahasa, dan orang yang terampil dalam berbahasa akan semakin cerah dan jelas jalan fikirannya.
Ketika kita membaca sebuah buku, apakah buku tersebut kita baca secara keseluruhan begitu saja? Tanpa tahu apa maksud yang disampaikan si penulis yang mampu memberikan peningkatan kualitas ilmu dan pengalaman kita. Atau kita cukup tahu saja maksud si penulis? Namun tanpa menemukan ide, gagasan, serta cita-cita si penuli dalam tulisannya.
Dalam membaca apa saja, hendaklah kita menemukan ide pokok pada bacaan tersebut. Jangan sampai hanya membuang waktu untuk menekuni detail semua bacaan
Dengan membaca ide memberikan banyak manfaat bagi tercapainya tujuan membaca yang optimal dan mampu membawa kepada peningkatan berbahasa bagi pembacanya.
Dengan membaca ide kita dapat menemukan gagasan, ide yang terkandung pada bacaan dengan cepat dan tepat tanpa membacanya secara keseluruhan secara detail.
Dengan membaca ide atau gagasan pokok maka kita sebenarnya telah menghemat waktu dan tenaga dalam membaca.
D. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca Ide?
Kemampuan membaca ide merupakan keharusan yang dimilki oleh para mahasiswa/pelajar pada khususnya, begitu juga bagi setiap pembaca pada umumnya. Tentunya dengan maksud untuk mencapai tujuan membaca yang optimal.
Untuk menjadi seorang pembaca ide, kita harus menjadi seorang pembaca yang baik (a good raider). Bagaimana untuk menjadi seorang pembaca yang baik?
Berikut ada beberapa cara untuk menjadi sorang pembaca yang baik, yaitu:
1. Mengetahui alasan kenapa dia membaca
2. Memahami apa yang dibacanya
3. Menguasai takhnik kecepatan membaca
4. Mengenal berbagai media cetak
Selain cara di atas ada cara yang lain untuk menjadi seorang pembaca ide, yaitu berusaha menemukan dan menangkap ide pokok. Untuk mendapatkan ide pokok dengan cepat dan tepat kita harus :
1. Berpikir bersama penulis, mengikuti struktur dan gaya penulisannya.
2. Baca dengan mendesak, dengan tujuan mendapatkan ide pokok, secara cepat.
3. Jangan baca kata per kata, melainkan serap ide.
4. Bergerak lebih cepat, tapi jangan kehilangan pengertian.
5. Bacalah dengan cepat, dengan cepat mengerti idenya. Get in, get the thought, and get out.
6. Anda harus melecut diri untuk cepat mencari arti sentral.
7. Kurangi kebiasaan menekuni detail kecil.
8. Cepat bereaksi terhadap pokok dari suatu karangan dengan akurat.
Namun pada dasarnya untuk meningkatkan kemampuan membaca ide tidak ada cara/metode yang paling tepat, karena setiap pembaca harus mengembangkan sendiri strategi ataupun metode-metode untuk membaca ide. Tapi beberapa cara/metode/resep di atas tentunya bisa dicoba.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
III. Kesimpulan
Keterampilan membaca ide sebagai bagian dari keterampilan berbahasa membaca yang berhubungan dengan ketiga keterampilan berbahasa yang lainnya (menyimak, berbicara dan menulis) merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dengan ketiga keterampilan membaca telaah isi yang lain (yaitu membaca telti, membaca pemahaman, dan membaca kritis).
Membaca ide adalah sejenis kegiatan/proses membaca yang ber-maksud menemukan dan memahami ide, gagasan, cita-cita, rancangan yang tersusun dalam pikiran si penulis dan maksud pengarang/penulis yang terdapat pada tulisannya.
Manfaat membaca ide adalah selain menemukan gagasan, ide, maksud, dan cita-cita dari penulis yang tertuang di dalam sebuah bacaan, juga untuk mewujudkan tujuan membaca yang optimal. Sehingga mampu memberikan penigkatan kualitas/mutu pengalaman, ilmu, dan kebahasaan bagi si pembaca.
Tidak ada metode yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan membaca ide. Namun dengan menjadi seorang pembaca yang baik dan berusaha menemukan dan menangkap ide pokok dari setiap bacaan, tentunya kita dapat menjadi seorang pembaca ide.
---------------------------------**--------------------------**---------------------------------
REFERENSI :
MEMBACA Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa
Prof. DR. Henry Guntur Tarigan
Angakasa – Bandung – 1979
Pendidikan Keterampilan Berbahasa
oleh Drs. Djago Tarigan, M.Pd.,dkk –
Pusat Penerbitan Universitas Terbuka (2004)
Artikel dari Indra Gunawan,
Direktur Toko Buku Gramedia,
diambil dari Kompas.Com. (2007)
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Edisi kedua – Balai Pustaka Jakarat – 1996
Jurus Membaca Cepat Untuk Meningkatkan Belajar dan
Kinerja Kita (Oleh Soedarsono)
Halo Indonesia.com Minggu, 17 Juni 2007
Jumat, 24 Oktober 2008
Senin, 13 Oktober 2008
Kumpuln Puisi "Buat yang Membaca"
Kumpulan Puisi "Buat yang Membaca"
(Oleh: WAWAN SUMARWAN)
Hampir Habis
Mentari mulai ke ufuk
Nanti jangan cari lagi ia
Tapi tunggulah rembulan
Walau besok kau lihat lagi ke timur
Tapi itu bukan yang kemarin
Mentari lalu telah pergi
Mengelana cari bunga kwaci bukan mawar
Karena hanya ialah yang berharap penuh kesetiaan
Benar 30 derajat lagi akan sirna
Cahyanya sudah kuning lembayung
Hampir hilang dalam harap dan sesal.
Siapa Kau?
Kala mentari bersinar
Cahayanya tulus menghangatkan bumi
Menghiasi bunga-bunga di taman
Tak perduli bunga kwaci atau mawar
Ada apa ini?
Entah apa yang terjadi
Langit sudah tak lagi kemarin
Metamorfosis keengganan
Samudra berkohesi bersumber pada titik tak terdetek
Gemuruh halilintar terdentum namun hujan tak tertetes
Ada pisau mengiris perih tepat di sini
Entah siapa yang memulai?
Masih Begini
Masih tetap di sini
Membujur tak tersingkab
Rangsangannya tak terhunus
Ada lagu yang mengharu galau
Ini bukan Cuma angin tapi bumi
Bukan posesif saja tapi kuantitasme juga
Jantung memompa,
Lambung mencerna
Paru-paru menghirup
Tak pernah keliru
Itu semestinya
Biarlah adam jadi adam
Biarlah hawa jadi hawa
Kalau itu maunya
Angin tak pernah memaksa burung tuk bersuara di pagi hari
Kalor yang memaksa besi memuai
Matahari tak memaksa mawar mekar merekah
Tapi memaksa air laut berepavorasi
Naluri yang bergerak
Hati yang merasa
Fuad yang bicara
(Oleh: WAWAN SUMARWAN)
Hampir Habis
Mentari mulai ke ufuk
Nanti jangan cari lagi ia
Tapi tunggulah rembulan
Walau besok kau lihat lagi ke timur
Tapi itu bukan yang kemarin
Mentari lalu telah pergi
Mengelana cari bunga kwaci bukan mawar
Karena hanya ialah yang berharap penuh kesetiaan
Benar 30 derajat lagi akan sirna
Cahyanya sudah kuning lembayung
Hampir hilang dalam harap dan sesal.
Siapa Kau?
Kala mentari bersinar
Cahayanya tulus menghangatkan bumi
Menghiasi bunga-bunga di taman
Tak perduli bunga kwaci atau mawar
Ada apa ini?
Entah apa yang terjadi
Langit sudah tak lagi kemarin
Metamorfosis keengganan
Samudra berkohesi bersumber pada titik tak terdetek
Gemuruh halilintar terdentum namun hujan tak tertetes
Ada pisau mengiris perih tepat di sini
Entah siapa yang memulai?
Masih Begini
Masih tetap di sini
Membujur tak tersingkab
Rangsangannya tak terhunus
Ada lagu yang mengharu galau
Ini bukan Cuma angin tapi bumi
Bukan posesif saja tapi kuantitasme juga
Jantung memompa,
Lambung mencerna

Paru-paru menghirup
Tak pernah keliru
Itu semestinya
Biarlah adam jadi adam
Biarlah hawa jadi hawa
Kalau itu maunya
Namun kecebong tak selamanya jadi dia
Begitu juga puva
Tak Memaksa
Begitu juga puva
Tak Memaksa
Angin tak pernah memaksa burung tuk bersuara di pagi hari
Kalor yang memaksa besi memuai
Matahari tak memaksa mawar mekar merekah
Tapi memaksa air laut berepavorasi
Naluri yang bergerak
Hati yang merasa
Fuad yang bicara
Walau wajah berselimut lain
Jumat, 26 September 2008
Cerpen (Tresno Jalaran Sakakulino)
Tresno Jalaran Sakakulino
Oleh : Wawan Sumarwan
Siang itu, udara begitu panas karena memang sedang musim kemarau. Ruangan yang penuh sesak dengan para mahasiswa baru yang kelihatan kebingungan karena sedang mencari ruangan kelasnya masing-masing di gedung yang baru mereka masuki, suara yang bergemuruh bising dengan obrolan-obrolan yang tak jelas temanya menambah situasi semakin berantakan. Iwan berada diantara mereka. Iwan seorang mahasisa baru yang berasal dari kota yang tidak biasa dengan hawa udara yang seperti ini terlihat kegerahan dan lusuh, rambut pendeknya berantakan tak karuan arah sisiran, mukanya terlihat payah dan lusuh menunjukan tidak senang dengan keadaan disekitarnya, ditambah lagi bagian punggung dan ketiak bajunya yang basah karena keringat yang mengucur keluar dari tubuhnya.
Jam sudah menunjukan pukul delapan lewat sepuluh menit. Sedangkan menurut jadwal yang ia dapat perkuliahan perdananya dimulai pada jam delapan pas. ”Wah sudah telat sepuluh menit nih” bisiknya sendiri. Iwan terlihat kebingungan, berjalan agak cepat di tengah kegaduhan dan sesaknya ruangan tengah yang banyak terlihat hilir mudik para mahasiswa keluar masuk dari ruangan-ruangan kelas dan yang hanya sekedar lewat saja. Ia berjalan sambil mencari ruangn kelas 1-3-4 tempat belajarnya, yang menurut bagian informasi adalah kelas bagi mahasiswa baru jurusan Bahasa. ”1-3-4 itu lantai 3 mas” jawab seorang laki-laki yang dia tanya.
Iwan memang belum punya kenalan atau teman, karena ia daftar ke universitas ini berawal dari ketidak sengajaannya ketika lewat hendak pulang setelah berkunjung ke saudaranya. Ia tidak sengaja melihat papan nama bertuliskan sebuah universitas yang kebetulan terdapat jurusan yang sedang ia cari dan kebetulan, konon kata salah seorang teman lamanya yang enam tahun lalu pernah kuliah di sini mengatakan bahwa biayanya lumbayan murah.
Iwan naik sampai ke lantai 3, coba mencari ruangan kelas yang ia tuju. ”Maaf Ba, ruangan 1-3-4 mana ya?” tanyanya. ”.... Saya juga ini lagi nyari ruangan itu Mas” Jawab seorang perempuan yang berbaju motif bunga-bunga berwarna hijau muda dan berkulit putih. Kemudian ia menyambungkan ”Mas mahasiswa baru ya?”. Iwan mengangguk meng-iyakan perkiraan perempuan itu. ”Sama mas. Kita satu ruangan, kita cari aja bareng-bareng” Ajak perempuan itu. Tanpa basa-basi dan ragu-ragu Iwan berjalan beriringan. Setelah melewati beberapa ruangan kelas, mereka akhirnya menemukan kelas yang mereka cari. Walaupun kelas sudah dimulai dan sangat penuh sesak, mereka memaksa masuk, sampai mereka duduk di kursi yang tepat berada di mulut pintu. ”Ini adalah kelas baruku, dia adalah teman pertamaku diantara calon teman-taman baruku ini” Fikir Iwan dalam hatinya.
- - - - - - - - - -
Setelah dua kali perkulaiahan barulah Iwan kenal dengan teman perempuan yang kemarin berbaju motif bunga itu, namanya Mia Dianita Purnama. Kemana-mana Iwan berada, disaat menunggu dosen masuk, saat istirahat, dan saat di kantin, Mia selalu bersamanya. Mereka terlihat sangat akrab. Sampai teman dikelasnya mengira kalau mereka sudah saling kenal sebelumnya.
Beberapa hari setelah perkuliahan, satu-persatu teman-teman di kelasnya, ia kenal. Diantara mereka ada yang bernama Dani Ahmadi, Prasetyo Danuwiryo, Hani Puji Lestari, Bambang Sudarmanto dan seorang perempuan yang berbaju ping, Rita Indriyani Fitri namanya atau nama panggilannya Ita. Awal perkenalan dengan teman-temannya biasa saja, begitu juga dengan Ita perempuan muda berbaju ping, berwajah opal, dan berkulit putih, dengan santun kata tuturnya.
Pada hari-hari berikutnya Iwan selalu bertiga dengan temannya Mia, dan Ita. Satu lagi teman akrabnya bertambah. ”Tiga serangkai” begitu teman-temen di kelas menyebutnya, mereka lama-kelamaan semakin akrab, mereka duduk di kelas berjejer berdekatan, dan kemana-mana selalu bersama-sama. Terlebih lagi dengan Ita yang selalu pulang bareng dengan Iwan, karena searah jalan menuju rumahnya. Apalagi ketika Iwan tidak membawa motor, maka ia akan numpang motornya Ita. Iwan akan membonceng Ita sampai ke stasiun terdekat, karena dia akan meneruskan perjalanan pulangnya dengan kereta, kemudian memberikan kembali kendali sepedah motor kepada Ita, sambil mengucapkan terimakasih dan ucapan selamat jalan serta hati-hati pada Ita.
Tresno jalaran sakakulino. Semakin sering mereka bertemu, ternyata mulai timbul hal-hal aneh pada kedua insan yang berlainan jenis itu, Iwan dan Ita. Mereka berdua mulai menunjukan hal yang aneh, dan teman-teman disekelilingnya juga mulai melihat gelagat tersebut, sehingga mereka menganggap bahwa mereka berdua tidak hanya berteman tetapi juga lebih dari itu. ”Kemarin guwa lihat Iwan dan Ita pulang boncengan loh. Dan mereka kelihatannya itu cocok banget gitu ...... da apa nih?” celetuk salah seorang temannya, sambil terlihat mempermainkan mereka. Iwan dan Ita hannya terdiam saja tanpa sepatah katapun menanggapi ejekan mereka. Hanya terlihat memerah di wajah putihnya Ita dan Iwan hanya berlalu berjalan keluar kelas. Begitupun Mia terlihat tersenyum mendengarnya.
Keadaan ini terjadi beberapa lama, hubungan Iwan dan Ita juga Mia biasa-biasa saja, walaupun kesan beda antara Iwan dan Ita semakin terlihat. Terlebih lagi beberapa hari yang lalu Ita cerita kepada Iwan dan Mia bahwa ia baru saja putus dengan pacarnya, secara kebetulan hal yang sama juga terjadi pada Iwan. Keadaan seperti ini nampaknya semakin memperlihatkan dan membuka celah Iwan yang lama-kelamaan ternyata juga mulai tumbuh benih-benih suka, sayang atau mungkin cinta yang tak biasa pada Ita. Begitupun pada gelagat Ita mungkin juga sama.
Iwan yang tak mudah atau mungkin kurang bisa untuk mengungkapkan perasaanya itu, menahan dirinya untuk tidak sampai membesar perasaan anehnya sama Ita. Dan Ita perempuan yang pemalu dalam hal ini, juga terlihat menunggu dan tidak mau untuk mengungkapkannya pertama kali ”Apa kata dunia kalau perempuan dulu yang mengungkapkan perasaanya sama cowok, terlebih lagi aku ini..?” Bisik hatinya, mungkin.
Kondisi ini bertahan cukup lama juga. Antara Iwan yang tidak pandai dan Ita yang menjaga genngsinya ini. Membuat perasaan hati mereka belum terungkap juga. Mereka hanya menutupi peresaan mereka dengan tingkah laku dan hubungannya yang wajar dan bisa-biasa saja, seperti tidak ada perasaan hati yang mendesaknya untuk mengungkapkan sesuatu. Terlebih lagi ada Mia diantara mereka.
Semakin lama Iwan menahan perasaanya, semakin terasa berat baginya. Terlebih desakan teman-temannya untuk segara mengungkapkan sesuatu pada Ita, karena menurut mereka Ita sepertinya sedang menunggu. ”Tingkah lakunya dan perhatiannya sama lo itu, lo liat dong! Dia juga cantik lagi. Dia itu suka sama lo. Lo mau tunggu apa lagi Wan?” Kata Prasetyo temannya. ”Malah kalo lo gak masuk kuliah Wan... dia kelihatannya kecewa banget, gak semanget” Tambah Dani.
Akhirnya Iwan berfikir ingin mengungkapkan isi hatinya pada Ita, namun moment dan kesempatan selalu tidak mendukung. Hingga pada satu ketika Iwan sedang berada dalam kamarnya, melamun menahan perasaan hati dan fikirannya yang selalu tertuju pada sosok perempuan berbaju ping itu. Ia mencoba memberanikan diri mengungkapkan perasaannya, dengan mengirimnya sms ”Ta knp ya? Skrang2 ni gw ingt trs ma lo, da pa ya? Lo gak pa2-kn?”. Namun ternyata maksud yang tersembunyi pada kata-kata tersebut tidak dimengerti Ita, atau mungkin Ita memang tidak punya perasaan yang sama seperti Iwan. Ita malah membalasnya dengan kalimat yang sebenarnya tidak diharapkan Iwan. Hal ini membuat Iwan kecewa.
Balasan sms yang di terima membuatnya frustasi dan kecewa berat. Namun untuk tipe laki-laki seperti Iwan yang jarang banget kenal cewe’ dan tidak mudah untuk melupakan sosok perempuan yang dia kagumi, berfikir lain. Dia mencoba mengobati dirinya sendiri, dia mencoba menjernihkan fikiran dan perasaannya, dia berfikir bahwa, Ita hanyalah sebagai teman, teman biasa tidak lebih dari sekedar itu, perhatiannya, tingkah lakunya selama ini hanyalah wujud perasaan sebagai teman biasa. ”Bahwa yang selama ini aku rasakan, yang selama aku nilai dari tingkah lakunya kepadaku ini ternyata salah. Aku mungkin terlalu pd (percaya diri) atau ke gr-an kali....ah. Ita itu adalah teman...sekedar teman....sekedar sahabat....sama seperti Mia atau yang lainnya...” Bisik Iwan pada hatinya. Hal ini ia patri dengan kuat dalam hatinya.
Setiap kali kuliah, Iwan, Mia dan Ita selalu bertemu, ngobrol, jalan-jalan, makan di kantin, belajar di kelas, pulang bareng, dan sekedar duduk-duduk di luar kelas bersama-sama. Semuanya dia lalui dengan biasa-biasa saja, seperti tidak ada dan tidak pernah ada perasaan yang pernah membuatnya tidak nyenyak tidur dan perasaan yang pernah mengusik hatinya dan kehidupannya. Semuanya telah ia buang jauh-jauh, walaupun tidak sepenuhnya dia mampu menghapusnya. Kadang juga masih terlihat tingkah dan perhatian Ita yang masih seperti memberikan peluang untuk membukakan pintu hati cintanya untuk Iwan.
”Nampaknya tidak semua yang kita rasakan dalam hati harus kita ungkapkan, dan tidak setiap yang kita lihat dan kita terima juga bisa kita nilai sebagai wujud perasaannya yang sama seperti yang kita rasakan. Biarlah hati ini, perasaan ini dan cinta serta sayang-
ini aku ungkapkan dan wujudkan hanya sebagai ungkapan seorang sahabat. Cinta pada seorang sahabat, tidak akan pudar dan akan tetap menjadi kenangan yang manis, tetapi wujud ungkapan cinta dan sayang seorang kekasih bisa saja hancur dan rusak”, inilah suara hati Iwan yang selalu terucap, ketika ia bersama Ita, atau terlintas fikiran aneh tentangnya.
”Hati dan cinta ini hanya untuk dia, bukannya untuk Ita. Dan mungkin hati dan citanya Ita juga untuknya bukan untukku”.
Biarlah Iwan memupus cintanya sendiri, tanpa mengetahui bahwa apakah Ita juga mencintainya atau tidak. Dan biarlah semuanya berjalan apa adanya seperti air yang mengalir, kemanapun mengalirnya, siapapun yang melihat dan menyentuhnya, dan bagaimanapun digunakannya, dia tetap menganggap semuanya sama, tidak pernah berubah.
Apakah Iwan telah salah membunuh perasaannya pada Ita. Atau Ita telah salah berbohong pada hatinya sendiri bahwa sebetulnya dia juga mempunyai perasaan hati yang sama pada Iwan, dan ia masih menunggu Iwan untuk mengucapkannya?
- - - - - - - - - -
Kala itu, dalam kesendiriannya dia termenung, lalu dia menuliskan ungkapan perasaannya saat itu dalam sebuah puisi :
Anganku atas Inginku
K
etika ku hanyut dalam keberadaanku
Coba ku cari pegangan yang menopangku
Tak ada tiang tuk bersandar
Semua tiang lapuk, lusuh dan rusak mungkin?
Lautku sedang pasang dan badai
Hingga hancur keindahan di pantaiku
Saat itu anganku tertuju
Bahwa ada satu yang tak hancur
yang mungkin bisa hidupkan semua kembali
Basahi tanahku yang hampir kering
Membantuku tuk berdiri, bangkit dan berjalan mungkin kadang berlari
....?
Kau sirami aku dengan senyummu
Matamu memancarkan semangat hidupku
Suaramu nasehat bagi pulihnya tenagaku
Kepalan tanganmu membuatku semakin ingin hidup
Aku sadari ini semua,
Walau kadang ada bisikan yang meluluhkannya
Tapi tetap saja aku semakin yakin....
Dan membuatku semakin jauh memujimu
Namun apakah dia tau ini?
Atau cukup hanya untukku saja?
Oleh : Wawan Sumarwan
Siang itu, udara begitu panas karena memang sedang musim kemarau. Ruangan yang penuh sesak dengan para mahasiswa baru yang kelihatan kebingungan karena sedang mencari ruangan kelasnya masing-masing di gedung yang baru mereka masuki, suara yang bergemuruh bising dengan obrolan-obrolan yang tak jelas temanya menambah situasi semakin berantakan. Iwan berada diantara mereka. Iwan seorang mahasisa baru yang berasal dari kota yang tidak biasa dengan hawa udara yang seperti ini terlihat kegerahan dan lusuh, rambut pendeknya berantakan tak karuan arah sisiran, mukanya terlihat payah dan lusuh menunjukan tidak senang dengan keadaan disekitarnya, ditambah lagi bagian punggung dan ketiak bajunya yang basah karena keringat yang mengucur keluar dari tubuhnya.
Jam sudah menunjukan pukul delapan lewat sepuluh menit. Sedangkan menurut jadwal yang ia dapat perkuliahan perdananya dimulai pada jam delapan pas. ”Wah sudah telat sepuluh menit nih” bisiknya sendiri. Iwan terlihat kebingungan, berjalan agak cepat di tengah kegaduhan dan sesaknya ruangan tengah yang banyak terlihat hilir mudik para mahasiswa keluar masuk dari ruangan-ruangan kelas dan yang hanya sekedar lewat saja. Ia berjalan sambil mencari ruangn kelas 1-3-4 tempat belajarnya, yang menurut bagian informasi adalah kelas bagi mahasiswa baru jurusan Bahasa. ”1-3-4 itu lantai 3 mas” jawab seorang laki-laki yang dia tanya.
Iwan memang belum punya kenalan atau teman, karena ia daftar ke universitas ini berawal dari ketidak sengajaannya ketika lewat hendak pulang setelah berkunjung ke saudaranya. Ia tidak sengaja melihat papan nama bertuliskan sebuah universitas yang kebetulan terdapat jurusan yang sedang ia cari dan kebetulan, konon kata salah seorang teman lamanya yang enam tahun lalu pernah kuliah di sini mengatakan bahwa biayanya lumbayan murah.
Iwan naik sampai ke lantai 3, coba mencari ruangan kelas yang ia tuju. ”Maaf Ba, ruangan 1-3-4 mana ya?” tanyanya. ”.... Saya juga ini lagi nyari ruangan itu Mas” Jawab seorang perempuan yang berbaju motif bunga-bunga berwarna hijau muda dan berkulit putih. Kemudian ia menyambungkan ”Mas mahasiswa baru ya?”. Iwan mengangguk meng-iyakan perkiraan perempuan itu. ”Sama mas. Kita satu ruangan, kita cari aja bareng-bareng” Ajak perempuan itu. Tanpa basa-basi dan ragu-ragu Iwan berjalan beriringan. Setelah melewati beberapa ruangan kelas, mereka akhirnya menemukan kelas yang mereka cari. Walaupun kelas sudah dimulai dan sangat penuh sesak, mereka memaksa masuk, sampai mereka duduk di kursi yang tepat berada di mulut pintu. ”Ini adalah kelas baruku, dia adalah teman pertamaku diantara calon teman-taman baruku ini” Fikir Iwan dalam hatinya.
- - - - - - - - - -
Setelah dua kali perkulaiahan barulah Iwan kenal dengan teman perempuan yang kemarin berbaju motif bunga itu, namanya Mia Dianita Purnama. Kemana-mana Iwan berada, disaat menunggu dosen masuk, saat istirahat, dan saat di kantin, Mia selalu bersamanya. Mereka terlihat sangat akrab. Sampai teman dikelasnya mengira kalau mereka sudah saling kenal sebelumnya.
Beberapa hari setelah perkuliahan, satu-persatu teman-teman di kelasnya, ia kenal. Diantara mereka ada yang bernama Dani Ahmadi, Prasetyo Danuwiryo, Hani Puji Lestari, Bambang Sudarmanto dan seorang perempuan yang berbaju ping, Rita Indriyani Fitri namanya atau nama panggilannya Ita. Awal perkenalan dengan teman-temannya biasa saja, begitu juga dengan Ita perempuan muda berbaju ping, berwajah opal, dan berkulit putih, dengan santun kata tuturnya.
Pada hari-hari berikutnya Iwan selalu bertiga dengan temannya Mia, dan Ita. Satu lagi teman akrabnya bertambah. ”Tiga serangkai” begitu teman-temen di kelas menyebutnya, mereka lama-kelamaan semakin akrab, mereka duduk di kelas berjejer berdekatan, dan kemana-mana selalu bersama-sama. Terlebih lagi dengan Ita yang selalu pulang bareng dengan Iwan, karena searah jalan menuju rumahnya. Apalagi ketika Iwan tidak membawa motor, maka ia akan numpang motornya Ita. Iwan akan membonceng Ita sampai ke stasiun terdekat, karena dia akan meneruskan perjalanan pulangnya dengan kereta, kemudian memberikan kembali kendali sepedah motor kepada Ita, sambil mengucapkan terimakasih dan ucapan selamat jalan serta hati-hati pada Ita.
Tresno jalaran sakakulino. Semakin sering mereka bertemu, ternyata mulai timbul hal-hal aneh pada kedua insan yang berlainan jenis itu, Iwan dan Ita. Mereka berdua mulai menunjukan hal yang aneh, dan teman-teman disekelilingnya juga mulai melihat gelagat tersebut, sehingga mereka menganggap bahwa mereka berdua tidak hanya berteman tetapi juga lebih dari itu. ”Kemarin guwa lihat Iwan dan Ita pulang boncengan loh. Dan mereka kelihatannya itu cocok banget gitu ...... da apa nih?” celetuk salah seorang temannya, sambil terlihat mempermainkan mereka. Iwan dan Ita hannya terdiam saja tanpa sepatah katapun menanggapi ejekan mereka. Hanya terlihat memerah di wajah putihnya Ita dan Iwan hanya berlalu berjalan keluar kelas. Begitupun Mia terlihat tersenyum mendengarnya.
Keadaan ini terjadi beberapa lama, hubungan Iwan dan Ita juga Mia biasa-biasa saja, walaupun kesan beda antara Iwan dan Ita semakin terlihat. Terlebih lagi beberapa hari yang lalu Ita cerita kepada Iwan dan Mia bahwa ia baru saja putus dengan pacarnya, secara kebetulan hal yang sama juga terjadi pada Iwan. Keadaan seperti ini nampaknya semakin memperlihatkan dan membuka celah Iwan yang lama-kelamaan ternyata juga mulai tumbuh benih-benih suka, sayang atau mungkin cinta yang tak biasa pada Ita. Begitupun pada gelagat Ita mungkin juga sama.
Iwan yang tak mudah atau mungkin kurang bisa untuk mengungkapkan perasaanya itu, menahan dirinya untuk tidak sampai membesar perasaan anehnya sama Ita. Dan Ita perempuan yang pemalu dalam hal ini, juga terlihat menunggu dan tidak mau untuk mengungkapkannya pertama kali ”Apa kata dunia kalau perempuan dulu yang mengungkapkan perasaanya sama cowok, terlebih lagi aku ini..?” Bisik hatinya, mungkin.
Kondisi ini bertahan cukup lama juga. Antara Iwan yang tidak pandai dan Ita yang menjaga genngsinya ini. Membuat perasaan hati mereka belum terungkap juga. Mereka hanya menutupi peresaan mereka dengan tingkah laku dan hubungannya yang wajar dan bisa-biasa saja, seperti tidak ada perasaan hati yang mendesaknya untuk mengungkapkan sesuatu. Terlebih lagi ada Mia diantara mereka.
Semakin lama Iwan menahan perasaanya, semakin terasa berat baginya. Terlebih desakan teman-temannya untuk segara mengungkapkan sesuatu pada Ita, karena menurut mereka Ita sepertinya sedang menunggu. ”Tingkah lakunya dan perhatiannya sama lo itu, lo liat dong! Dia juga cantik lagi. Dia itu suka sama lo. Lo mau tunggu apa lagi Wan?” Kata Prasetyo temannya. ”Malah kalo lo gak masuk kuliah Wan... dia kelihatannya kecewa banget, gak semanget” Tambah Dani.
Akhirnya Iwan berfikir ingin mengungkapkan isi hatinya pada Ita, namun moment dan kesempatan selalu tidak mendukung. Hingga pada satu ketika Iwan sedang berada dalam kamarnya, melamun menahan perasaan hati dan fikirannya yang selalu tertuju pada sosok perempuan berbaju ping itu. Ia mencoba memberanikan diri mengungkapkan perasaannya, dengan mengirimnya sms ”Ta knp ya? Skrang2 ni gw ingt trs ma lo, da pa ya? Lo gak pa2-kn?”. Namun ternyata maksud yang tersembunyi pada kata-kata tersebut tidak dimengerti Ita, atau mungkin Ita memang tidak punya perasaan yang sama seperti Iwan. Ita malah membalasnya dengan kalimat yang sebenarnya tidak diharapkan Iwan. Hal ini membuat Iwan kecewa.
Balasan sms yang di terima membuatnya frustasi dan kecewa berat. Namun untuk tipe laki-laki seperti Iwan yang jarang banget kenal cewe’ dan tidak mudah untuk melupakan sosok perempuan yang dia kagumi, berfikir lain. Dia mencoba mengobati dirinya sendiri, dia mencoba menjernihkan fikiran dan perasaannya, dia berfikir bahwa, Ita hanyalah sebagai teman, teman biasa tidak lebih dari sekedar itu, perhatiannya, tingkah lakunya selama ini hanyalah wujud perasaan sebagai teman biasa. ”Bahwa yang selama ini aku rasakan, yang selama aku nilai dari tingkah lakunya kepadaku ini ternyata salah. Aku mungkin terlalu pd (percaya diri) atau ke gr-an kali....ah. Ita itu adalah teman...sekedar teman....sekedar sahabat....sama seperti Mia atau yang lainnya...” Bisik Iwan pada hatinya. Hal ini ia patri dengan kuat dalam hatinya.
Setiap kali kuliah, Iwan, Mia dan Ita selalu bertemu, ngobrol, jalan-jalan, makan di kantin, belajar di kelas, pulang bareng, dan sekedar duduk-duduk di luar kelas bersama-sama. Semuanya dia lalui dengan biasa-biasa saja, seperti tidak ada dan tidak pernah ada perasaan yang pernah membuatnya tidak nyenyak tidur dan perasaan yang pernah mengusik hatinya dan kehidupannya. Semuanya telah ia buang jauh-jauh, walaupun tidak sepenuhnya dia mampu menghapusnya. Kadang juga masih terlihat tingkah dan perhatian Ita yang masih seperti memberikan peluang untuk membukakan pintu hati cintanya untuk Iwan.
”Nampaknya tidak semua yang kita rasakan dalam hati harus kita ungkapkan, dan tidak setiap yang kita lihat dan kita terima juga bisa kita nilai sebagai wujud perasaannya yang sama seperti yang kita rasakan. Biarlah hati ini, perasaan ini dan cinta serta sayang-
ini aku ungkapkan dan wujudkan hanya sebagai ungkapan seorang sahabat. Cinta pada seorang sahabat, tidak akan pudar dan akan tetap menjadi kenangan yang manis, tetapi wujud ungkapan cinta dan sayang seorang kekasih bisa saja hancur dan rusak”, inilah suara hati Iwan yang selalu terucap, ketika ia bersama Ita, atau terlintas fikiran aneh tentangnya.
”Hati dan cinta ini hanya untuk dia, bukannya untuk Ita. Dan mungkin hati dan citanya Ita juga untuknya bukan untukku”.
Biarlah Iwan memupus cintanya sendiri, tanpa mengetahui bahwa apakah Ita juga mencintainya atau tidak. Dan biarlah semuanya berjalan apa adanya seperti air yang mengalir, kemanapun mengalirnya, siapapun yang melihat dan menyentuhnya, dan bagaimanapun digunakannya, dia tetap menganggap semuanya sama, tidak pernah berubah.
Apakah Iwan telah salah membunuh perasaannya pada Ita. Atau Ita telah salah berbohong pada hatinya sendiri bahwa sebetulnya dia juga mempunyai perasaan hati yang sama pada Iwan, dan ia masih menunggu Iwan untuk mengucapkannya?
- - - - - - - - - -
Kala itu, dalam kesendiriannya dia termenung, lalu dia menuliskan ungkapan perasaannya saat itu dalam sebuah puisi :
Anganku atas Inginku
K
etika ku hanyut dalam keberadaanku
Coba ku cari pegangan yang menopangku
Tak ada tiang tuk bersandar
Semua tiang lapuk, lusuh dan rusak mungkin?
Lautku sedang pasang dan badai
Hingga hancur keindahan di pantaiku
Saat itu anganku tertuju
Bahwa ada satu yang tak hancur
yang mungkin bisa hidupkan semua kembali
Basahi tanahku yang hampir kering
Membantuku tuk berdiri, bangkit dan berjalan mungkin kadang berlari
....?
Kau sirami aku dengan senyummu
Matamu memancarkan semangat hidupku
Suaramu nasehat bagi pulihnya tenagaku
Kepalan tanganmu membuatku semakin ingin hidup
Aku sadari ini semua,
Walau kadang ada bisikan yang meluluhkannya
Tapi tetap saja aku semakin yakin....
Dan membuatku semakin jauh memujimu
Namun apakah dia tau ini?
Atau cukup hanya untukku saja?
Senin, 22 September 2008
Sahabat
Sahabat?
Sudah menjadi fitrah, manusia sebagai makhluk sosial. Bergaul dan bermasyarakat merupakan bagian dari kebutuhan super primer manusia. Tentunya tanpa adanya hubungan dengan oranglain seorang manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Walaupun Tarzan hidup sendiri di hutan, namun setidaknya dia pernah dilahirkan oleh seorang ibu yang pasti pernah melakukan suatu interaksi/hubungan. Terlebih lagi kita, yang setiap hari, setiap saat melakukan unteraksi dengan orang lain.
Dalam berhubungan dengan orang lain tentunya kita mengenal istilah teman/sahabat. Setiap orang pasti punya sahabat/teman, baik itu anak-anak ataupun dewasa.
Semua bisa berawal dari sahabat. Sahabat bisa jadi apa saja. Bisa menjadi orang yang sangat dekat seperti suami atau istri, bisa menjadi rekan sepeti Batman dan Robin, bisa menjadi pacar seperti Rama dan Sinta atau Minke dan Annelis, bisa juga menjadi musuh seperti Kobil dan Habil atau seperti Brahmana dan Rahwana.
Sahabat yang baik adalah yang selalu berada di samping ketika dalam kejayaan ataupun dalam keterpurukan.
Sahabat adalah dia yang selalu menghampiri ketika seluruh dunia menjauh, karena persahabatan itu seperti tangan dengan mata. Saat tangan terluka, mata menangis. Saat mata menangis, tangan menghapusnya.
Siapapun bisa menjadi sahabat. Persahabatan tidak membedakan golongan, ras, gender, tingkatan, atau kelas. Mencari sahabat hampir sama dengan mencari ilmu. Ilmu apapun boleh kita tahu, sekalipun ilmu menipu atau mencopet, misalkan, karena dengan ilmu itu bisa terhindar dari penipuan atau pencopetan. Begitu juga mencari teman, siapapun bisa menjadi teman, sekalipun tukang copet atau tukang tipu misalkan. Yang terpenting bagaimana kita bisa memilih mana yang baik dan yang tidak. “Dimanapun bumi di jungjung disana kita mengabdi”, artinya diamanapun kita berada, dengan siapapun kita berteman, maka kita harus bisa memberikan manfaat terhadapat lingkungan dan teman-teman sekitar, “sebaik-baiknya orang adalah orang yang bermanfaat bagi manusia”.
“Berada di dekat tukang ikan, maka akan terbawa bau ikan, berada di dekat tukang parfum, maka akan terbawa wangi parfum”. Perlu kiranya memilih teman, apabila memang ada ketakutan terhadap terjerumus atau terkontaminasi dengan teman yang berkelakuan kurang baik. Tapi sekali lagi yang terpenting, harus mempunyai komitmen terhadap keinginan dan kesungguhan untuk selalu berbuat baik, selalu mau belajar, selalu mau memberi, dan selalu menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.
Jangan tanyakan berapa banyak yang sudah dia berikan dan apa yang sudah dia kerjakan, tapi coba tanyakan apa dan berapa banyak yang sudah anda lakukan atau berikan. Karena bagaimanapun persahabatan tidak dapat diukur dengan apa yang sudah diberikan saja, tapi juga ketulusan dan keiklasan dalam bersahabat. Begitu juga ketulusan, tidak dapat menilai seseorang dari tingkah-laku atau perbuatannya dengan ukuran ketulusannya. Namun yang terpenting adalah selalu berbuat dengan ikhlas dan berperasangka dengan baik. Bersahabat bukan hitungan kuantitatif tapi kualitatif juga.
Tidak dapat terbayangkan jika hidup tanpa sahabat. Kemana-mana hanya sendiri tidak ada teman ngobrol atau buat pegangan tangan. Kalau nyasar, nyasar sendirian, kalau malu ya malu sendiri, kalau takut juga takut sendirian.. Ketika ada masalah hanya bisa dipendam sendirian yang ujung-ujungnya kalau tidak kuat bisa jerawatan atau jatuh sakit. Kalau lagi tajir juga gak ada teman berbagai. Sepi rasanya dunia ini. Dunia serasa milik sendiri alias sendirian, dan yang lain...tidak ada, tidak ada satu rangpun Iiii tatut.
Sudah menjadi fitrah, manusia sebagai makhluk sosial. Bergaul dan bermasyarakat merupakan bagian dari kebutuhan super primer manusia. Tentunya tanpa adanya hubungan dengan oranglain seorang manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Walaupun Tarzan hidup sendiri di hutan, namun setidaknya dia pernah dilahirkan oleh seorang ibu yang pasti pernah melakukan suatu interaksi/hubungan. Terlebih lagi kita, yang setiap hari, setiap saat melakukan unteraksi dengan orang lain.
Dalam berhubungan dengan orang lain tentunya kita mengenal istilah teman/sahabat. Setiap orang pasti punya sahabat/teman, baik itu anak-anak ataupun dewasa.
Semua bisa berawal dari sahabat. Sahabat bisa jadi apa saja. Bisa menjadi orang yang sangat dekat seperti suami atau istri, bisa menjadi rekan sepeti Batman dan Robin, bisa menjadi pacar seperti Rama dan Sinta atau Minke dan Annelis, bisa juga menjadi musuh seperti Kobil dan Habil atau seperti Brahmana dan Rahwana.
Sahabat yang baik adalah yang selalu berada di samping ketika dalam kejayaan ataupun dalam keterpurukan.
Sahabat adalah dia yang selalu menghampiri ketika seluruh dunia menjauh, karena persahabatan itu seperti tangan dengan mata. Saat tangan terluka, mata menangis. Saat mata menangis, tangan menghapusnya.
Siapapun bisa menjadi sahabat. Persahabatan tidak membedakan golongan, ras, gender, tingkatan, atau kelas. Mencari sahabat hampir sama dengan mencari ilmu. Ilmu apapun boleh kita tahu, sekalipun ilmu menipu atau mencopet, misalkan, karena dengan ilmu itu bisa terhindar dari penipuan atau pencopetan. Begitu juga mencari teman, siapapun bisa menjadi teman, sekalipun tukang copet atau tukang tipu misalkan. Yang terpenting bagaimana kita bisa memilih mana yang baik dan yang tidak. “Dimanapun bumi di jungjung disana kita mengabdi”, artinya diamanapun kita berada, dengan siapapun kita berteman, maka kita harus bisa memberikan manfaat terhadapat lingkungan dan teman-teman sekitar, “sebaik-baiknya orang adalah orang yang bermanfaat bagi manusia”.
“Berada di dekat tukang ikan, maka akan terbawa bau ikan, berada di dekat tukang parfum, maka akan terbawa wangi parfum”. Perlu kiranya memilih teman, apabila memang ada ketakutan terhadap terjerumus atau terkontaminasi dengan teman yang berkelakuan kurang baik. Tapi sekali lagi yang terpenting, harus mempunyai komitmen terhadap keinginan dan kesungguhan untuk selalu berbuat baik, selalu mau belajar, selalu mau memberi, dan selalu menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.
Jangan tanyakan berapa banyak yang sudah dia berikan dan apa yang sudah dia kerjakan, tapi coba tanyakan apa dan berapa banyak yang sudah anda lakukan atau berikan. Karena bagaimanapun persahabatan tidak dapat diukur dengan apa yang sudah diberikan saja, tapi juga ketulusan dan keiklasan dalam bersahabat. Begitu juga ketulusan, tidak dapat menilai seseorang dari tingkah-laku atau perbuatannya dengan ukuran ketulusannya. Namun yang terpenting adalah selalu berbuat dengan ikhlas dan berperasangka dengan baik. Bersahabat bukan hitungan kuantitatif tapi kualitatif juga.
Tidak dapat terbayangkan jika hidup tanpa sahabat. Kemana-mana hanya sendiri tidak ada teman ngobrol atau buat pegangan tangan. Kalau nyasar, nyasar sendirian, kalau malu ya malu sendiri, kalau takut juga takut sendirian.. Ketika ada masalah hanya bisa dipendam sendirian yang ujung-ujungnya kalau tidak kuat bisa jerawatan atau jatuh sakit. Kalau lagi tajir juga gak ada teman berbagai. Sepi rasanya dunia ini. Dunia serasa milik sendiri alias sendirian, dan yang lain...tidak ada, tidak ada satu rangpun Iiii tatut.
Selasa, 15 Juli 2008
PUISI dan Kejujuran
ANGANKU ATAS INGINKUKetika ku hanyut dalam keberadaanku
Coba ku cari pegangan yang menopangku
Tak ada tiang tuk bersandar
Semua tiang lapuk, lusuh dan rusak mungkin?
Lautku sedang pasang dan badai
Hingga hancur keindahan di pantaiku
Coba ku cari pegangan yang menopangku
Tak ada tiang tuk bersandar
Semua tiang lapuk, lusuh dan rusak mungkin?
Lautku sedang pasang dan badai
Hingga hancur keindahan di pantaiku
Saat itu anganku tertuju
Bahwa ada satu yang tak hancur
yang mungkin bisa hidupkan semua kembali
Basahi tanahku yang hampir kering
Membantuku tuk berdiri, bangkit dan berjalan mungkin kadang berlari
Bahwa ada satu yang tak hancur
yang mungkin bisa hidupkan semua kembali
Basahi tanahku yang hampir kering
Membantuku tuk berdiri, bangkit dan berjalan mungkin kadang berlari
....?
Kau sirami aku dengan senyummu
Matamu memancarkan semangat hidupku
Suaramu nasehat bagi pulihnya tenagaku
Kepalan tanganmu membuatku semakin ingin hidup
Kau sirami aku dengan senyummu
Matamu memancarkan semangat hidupku
Suaramu nasehat bagi pulihnya tenagaku
Kepalan tanganmu membuatku semakin ingin hidup
Aku sadari ini semua,
Walau kadang ada bisikan yang meluluhkannya
Tapi tetap saja aku semakin yakin....
Dan membuatku semakin jauh memujimu
Walau kadang ada bisikan yang meluluhkannya
Tapi tetap saja aku semakin yakin....
Dan membuatku semakin jauh memujimu
Namun apakah dia tau ini?
Atau cukup hanya untukku saja?
Atau cukup hanya untukku saja?
BIAR AKU TETAP SUKA KAMU
Banyak wanita bercantik molek
Berkulit mulus tiada berkerak
Berwajah manis semanis kolak
Berbaju indah beragam corak
Berjalan juntai seperti bebek
Bertutur pandai tiada berarak
Berkulit mulus tiada berkerak
Berwajah manis semanis kolak
Berbaju indah beragam corak
Berjalan juntai seperti bebek
Bertutur pandai tiada berarak
Pastilah mata pria terbelalak
Melihat mereka kagum berdecak
Melihat mereka kagum berdecak
Tapi sayang mereka begitu
Berbusana seperti tiada berbaju
Bertingkah tiada norma berlaku
Berbuat semau diri tiada malu
Berlisan nista tiada berilmu
Berbusana seperti tiada berbaju
Bertingkah tiada norma berlaku
Berbuat semau diri tiada malu
Berlisan nista tiada berilmu
Akh... yang begitu aku tak mau
Ku harap kamu tidak begitu
Biar aku tetap suka kamu
Biar aku tetap suka kamu
SEBETULNYA AKU MAU...
Wajahnya slalu terbayang
Terlihat jelas tiada terhalang
Suaranya terdengar jelas
Mengalun merdu serak-serak keras
Terlihat jelas tiada terhalang
Suaranya terdengar jelas
Mengalun merdu serak-serak keras
Wajahnya ada dihadapku
Suaranya ada di telingaku
Matanya ada dimataku
Tangannya halus di ganggamku
Suaranya ada di telingaku
Matanya ada dimataku
Tangannya halus di ganggamku
Mataku mengetuk hatinya
Berharap harap kan terbuka
Hatiku berbisik di teliganya
Bisikan kata angin surga
Berharap harap kan terbuka
Hatiku berbisik di teliganya
Bisikan kata angin surga
Ku ajak dia berjalan menyusuri sungai gangga
Bergenggam tangan terlepas sayang
Melewati bunga-bunga soka
Ku petik dua, ku selipkan di rambutmu yang tiada ku bayang
Bergenggam tangan terlepas sayang
Melewati bunga-bunga soka
Ku petik dua, ku selipkan di rambutmu yang tiada ku bayang
Desir angin membawa wangi tubuhmu
Hinggap di hidungku hingga menusuk jiwa
Membasahi sekujur tubuhku kian terayu
Meresap dalam dada sesak terasa
Hinggap di hidungku hingga menusuk jiwa
Membasahi sekujur tubuhku kian terayu
Meresap dalam dada sesak terasa
Masih di depanku, di genggaman tanganku
Kau menari-nari tertawa ria
Semakin erat tanganmu meremas jemariku
Ku hanya tersenyum menatapmu tiada terkira
Kau menari-nari tertawa ria
Semakin erat tanganmu meremas jemariku
Ku hanya tersenyum menatapmu tiada terkira
Belum layu bunga di rambutmu
Kau dekatkan suaramu di telingaku
Bibirmu menyentuh daun telinga
Membuat hasratku meronta-ronta
Apa maksud dengan kamu suara
Agar ku dengar jelas tidak berkurang
Kau dekatkan suaramu di telingaku
Bibirmu menyentuh daun telinga
Membuat hasratku meronta-ronta
Apa maksud dengan kamu suara
Agar ku dengar jelas tidak berkurang
Membisakkan kata tanpa diramu
Tak diramu pun membuatku mati kaku
Hujan badai tiada berasa
Sakit gigi seindah alunan biola
Jadam semanis madu
Kau ucapkan “padamu aku sayang”
.......
.......
.......
.......
Tak diramu pun membuatku mati kaku
Hujan badai tiada berasa
Sakit gigi seindah alunan biola
Jadam semanis madu
Kau ucapkan “padamu aku sayang”
.......
.......
.......
.......
Angin berhembus menyentuhku
Hujan di laur mengetukku
Kokok ayam membangunkanku
Menyadarkan dari mimpi indahku
Hujan di laur mengetukku
Kokok ayam membangunkanku
Menyadarkan dari mimpi indahku
Jujur Aku Mau ....
........
........
(Tobe cont....)
BULAN PURNAMA
Bulan purnama terangi malam yang gulita
Halaman pekarangan riuh gelak tawa
Anak-anak bermain dengan riang gembira
Ibu-ibu saling berbagi cerita
Bapak-bapak menganyam jala
Malam tidak lagi menyeramkan
Gelap tidak lagi jadi halangan
Sunyi sepi telah tersingkirkan
Karena kehadiranmu yang diidamkan
Ingin rasanya setiap malam seperti ini
Namun itu tiada kan terjadi
Karena kau kan pergi Tapi pergi, pasti akan kembali
Halaman pekarangan riuh gelak tawa
Anak-anak bermain dengan riang gembira
Ibu-ibu saling berbagi cerita
Bapak-bapak menganyam jala
Malam tidak lagi menyeramkan
Gelap tidak lagi jadi halangan
Sunyi sepi telah tersingkirkan
Karena kehadiranmu yang diidamkan
Ingin rasanya setiap malam seperti ini
Namun itu tiada kan terjadi
Karena kau kan pergi Tapi pergi, pasti akan kembali
Kamis, 10 Juli 2008
Kerinduan dan karena rindu
.jpg)
Maaf aku Merindukanmu
Ini aku dengan salahku
Ini aku dengan inginku
Ini aku dengan anganku
Ini aku dengan kamu
Maaf aku merindukanmu
Lagi-lagi angin itu berhembus membawanya
Menyeretnya mendekat kepadaku
Memaksaku mencium wanginya
Merangkulku, tuk mencumbunya
Meresahkan anganku yang tak dapat lepas
Lagi-lagi waktu bergerak menggiringnya
Membawanya untuk bersekutu denganku
Bergerak berdentum bersama dalam hentakan langkahku
Membebaniku dengan beribu asmara di punggung
Tak bisa ku letakkan sejenak atau selamanya saat ini
Lagi-lagi mata itu membawaku melihatnya
Pandangan yang tak ingin ku toleh
Namun mataku memaksanya, mewajibkan melihatnya
Menatapnya dalam-dalam, hingga mataku tak bisa menatap ke lain lagi
Mata ini telah menyimpan gambarnya di dalam sana
Sangat dalam….
Lagi-lagi anganku melakukannya
aku menciumnya
aku menyentuhnya
aku mencubunya
aku menginginkannya
Lagi-lagi ku ingat dia
Lagi-lagi ku merindukannya
Padahal ini terlarang …..
Akh…….
(anu-w@n)
MATANYA
Mata besar
Putih, coklat jernih di selaput pelanginya
Garis-garis di badan beningnya terlihat tipis
Hampir tak terlihat
Di badan beningnyanya putih, bersih
Menatapnya seakan berada di padang salju
Putih berhampar, empuk, dan dingin
Guratan-guratan tipisnya bagai guguran bunga-bunga sakura yang jatuh terhempas angin musim gugur selepas musim salju
Inginku berselancar disana
Atau bermain kejar-kejaran,
Atau membuat boneka salju yang bertopi hitam dan berhidung ranting cemara
Mata besar
Putih, coklat di selaput pelanginya
Irisnya hitam pekat, halus, licin
Mengkilap indah,
Tajam
Menatapnya seolah sedang di todong mulut meriam yang menganga
Membidik tepat di depan mata
Mengunci sendi-sendi
Melumpuhkan otot-otot
Membuat fikrian tak terkendali
Mata besar
Putih badan beningnya, hitam di irisnya
Pencarian
Dalam diam ku terbang
Membumi ke angkasa raya
Menyebrangi samudra
Membelah cakrawala
Menyisiri seluk-beluk relung jiwa
Mencari satu nafas yang kosong
Nafas tertahan, tersengal
Jakun menelan peluh gelisah
Bermandikan derai-derai keputus asaan
Hingga hampir ku terhempas jatuh di atas awan yang gelap
Napas tercium wangi
Mengisi hati menyambung nyawa
Menghapus perih tinggalkan pedih
Namun hati tetap ragu
Sebelum nafas aku miliki
Atau nafas ini berhenti
(anu-w@n)
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)
